Mereka bilang kota ini kejam karena hidup dengan layak hanya berhak untuk sebagian orang saja. Mereka bilang kota ini sangat sesak. Dan itu memang benar adanya-- fakta.
Kota ini selalu ramai riuh, tidak pernah senyap. Bahkan di saat malam kelam pekat sekali pun, kota ini tidak pernah benar-benar tertidur. Selalu ada manusia yang masih beraktivitas, terjaga, terbangun, atau bahkan tidak bisa tidur--seperti saya. Ah ya, dan kau tidak bisa melupakan para kelelawar serta hewan malam lainnya yang selalu terbangun sepanjang malam--bersuara.
Pernah kah barang sejenak kau berpikir bahwa di luar sana-- di luar kamar besar mu yang berisi tempat tidur king size, AC, selimut tebal, dan bantal empuk-- ada orang-orang yang ikhlas tidur hanya dengan beralaskan koran di atas kerasnya aspal dan dinginnya udara malam?
Pernah kah kau berpikir bahwa di saat kau sudah terlelap dengan perut penuh makanan enak, di luar sana ada orang-orang yang tetap ikhlas walaupun seharian penuh tidak ada makanan yang mampir ke perutnya?
Dan malam ini saya memikirkan hal itu, untuk yang kesekian kalinya. Dan saya kembali berpikir tentang makna "hidup ini selalu adil". Kembali teringat dengan apa yang dikatakan Bapak Darwis Tere-liye di salah satu novelnya, bahwa hidup ini selalu adil.
Hidup ini adil seadil-adilnya, hanya manusia saja yang terlalu bebal untuk mau memahami nya. Terlalu larut dalam ego nya. Terperangkap dalam keterbatasannya. Terhanyut dalam kesombongannya. Tersesat dalam pikirannya. Tertawan dalam kesedihannya. Tertutup mata hatinya untuk mau melihat dan bersimpati. Dan yang paling fatal lagi, lupa akan pencipta-Nya. Lupa akan janji-janji-Mu. Lupa bahwa kau adalah Sang Maha Adil.
Ps. Semoga saya dan orang-orang di sekitar saya tidak termasuk ke dalam golongan tersebut. Aamiin.
Yang sedang mencoba untuk mengerti,
Ayu Suwardi.

