Berdiri di kerumunan dan tanpa kau sadari, kau sedang bersaing dengan manusia-manusia lain untuk mendapatkan oksigen dan menghirupnya. Orang-orang asing bertebaran di sekeliling. Tak ada yang kau kenal, begitu pun sebaliknya. Ruangan tempat kau berpijak disesaki oleh perpaduan berbagai suara yang timbul sebagai akibat dari berbagai aktivitas manusia. Dering ponsel, orang-orang yang berbicara, napas tersengal, dan kaki-kaki yang melangkah--dari mulai yang berjalan santai hingga berlari dengan terbirit-birit. Entah sedang mengejar apa, eh, atau mungkin sedang dikejar ya?
Ya benar, di sini sungguh sesak dan ramai. Tapi sungguh, apa gunanya sekeliling mu ramai, bila kau tetap merasakan kehampaan? Apa gunanya berada di tengah kerumunan manusia, bila tak ada yang bisa diajak berbicara? Apa gunanya puluhan atau bakhan ratusan pasang telinga , bila tak ada yang sudi mendengarmu? Bahkan untuk sekedar melirik-- menyadari bahwa kau ada di sini bersama mereka pun mereka tak sudi.
Jadi, apa inti dari rangkaian kalimat di atas? Saya pun tak mengerti, entah lah. Pikiran saya sedang absurd sekali.
Sekian,
Ayu Suwardi.

